Setelah pulang, aku melihat ibu tergeletak kaku di ruang depan. Aku terdiam tak berkutik, jantungku berdebar cepat saat itu. Hatiku di banjiri tangisan yang tak terbendung, Jazmine Stuard yang berumur 7 tahun sudah menjadi sebatang kara.
Tanganku di tarik kasar oleh Anderson ke ruang keluarga dan di lempar ke arah ayahku yang saat itu terbujur kaku juga dengan darah yang mengisi ruangan. Tidak, tapi aku harusmenerima kenyataan pahit ini dan menjalaninya dengan tegar.
Pagi ini seperti biasa, aku memulai hari dengan ke pasar membeli roti gandum kismis pesanan Anderson. Terkadang setiap aku jalan, ada saja orang yang mengasihani ku dengan memberi sekantung makanan kecil. Mereka mengasihani ku karena Ayah dulu yang sangat di kenal sebagai Mafia dermawan yang selau membela kota yang di tinggalkannya walaupun dengan cara sekeji apapun. Dulu Ayah adalah bandar narkoba yang terkenal di kalangannya. Walaupun dulu aku aku tidak tahu apa-apa, tetapi beranjak dari dewasanya diriku, banyak orang yang menceritakan tentang keluarga Stuard.
Dengan pakaian lusuh aku berjalan di tengah kota yang ramai.Tidak seperti biasa Mr. Millie Jonh yang sekarang membuka bengkel di tengah kota setelah di pecat oleh si babi merah Todd menyapa aku, ada apa beliau?. Ia terlihat ketakutan padahal hari ini adalah awal Desember yang menyenangkan untuk mengawali Natal tahun ini. Aku langsung menghampirinya,
" Ada apa? mengapa kau terlihat ketakutan ?", tanyaku.
" Clark... Clark Johanson datang... Ia datang menagih janji lama Ayahmu Mr. Antonio Stuard ", jawabnya gugup.
" Si...siapa dia?, tetapi Ayah sudah mati 18 tahun yang lalu... ", kataku dengan perasaan ketakutan.
" Dia adalah seorang mafia Amerika yang menagih hutang ayahmu saat itu. Saat itu keluarga Stuard sedang krisis. Mr. Antonio meminjam sejumlah uang untuk membayar daerah yang habis terbakar karena pertarungan Ayahmu dengan sejumlah polisi Inggris. Akhirnya ayahmu memijam uang kepadanya dan menjanjikan sehektare tanah dan sejumlah uang yang aku tidak tahu berapa. ", jelas Mr. Millie.
" Apakah ia tidak tahu Ayah sudah meninggal dan keturunannya sudah tinggal hanya aku seorang ?", tanyaku cemas.
Mr. Millie langsung menarikku ke dalam rumahnya untuk membicarakan lebih jelas.